Didalam penyusunan sejarah didalam negeri Aboroe, maka sebagai pengarang/penyusun hanyalah
memberikan sedikit gambaran singkat melalui peninggalan peninggalan data sejarah negeri Aboroe,
yang dikutip dari catatan-catatan peninggalan singkat gulungan-gulungan kertas sejak tahun 1886,
oleh Almarhum moyang kami Agusta Teterissa serta Almarhum tetek S. A. Nahumury dan J. Teterissa,
sejak tahun 1960, yang melalui sambungan sejarah melalui data-data diatas ,yang disertai dengan
sambungan ceritra-ceritra tua dari mulut ke mulut sejak asal usul keturunan kami dari datuk-datuk
nenek moyang yang pertama berturut-turut untuk kami hingga dewasa ini. Namun pengarang tidak
terlepas dari pencaharian pengambikan data-data melalui arsip-arsip gereja jemaah Aboroe yang telah
disimpan serta dicatat sejak tahun 1928 dengan kelengkapannya administrasinya sampai sekarang,
disertai dengan pengambilan keterangan-keterangan/penjelasan singkat sekitar tahun 1960, dari setiap
orang-orang tua yang bertalian dengan sejarah, serta membutuhkan kenyataan yang perlu disaksikan
dengan mata, serta penambahan keterangan yang perlu di anggap tepat. Dan jelasnya bahwa sebagai
pengarang yang menyusun diklat dalam sejarah ini adalah salah seorang dari keturunnan asli
moyang/Kapitan “TANAHUMURY” dan Kapitan “TUA SAYA” yang tidak perlu diragukan dalam
penyusunan sejarah Aboroe.

ABOROE 8 NOPEMBER 1989 Yang menyusun adalah Z. F. Usa Teterissa


Pada mulanya sebelum bangsa Portogis mengenjungi kepulauan Maluku, maka Pulau Haruku
masih dinamai Nusa.......................Menurut Kapitan/Raja Latu............, biliau bertempat dipuncak
bukit (gunung) sehingga bukit (gunung) itu diberi nama Huruwano. Menurut sejarah bahwa pada
mulanya kepulauan maluku itu semuanya masih menjadi satu, tetapi sejak saman- saman sebelum
bangsa Eropah mengunjungi Kepulauan Maluku melalui banjir yang terbesar dan bencana alam
disaman itu sehingga pulau-pulau itu dapat dipisahkan dan Pulau Haruku juga turut dihanyutkan
dengan seorang laki-laki, beliau adalah salah seorang anak dari Raja Nunusaku yang
bernama............., sehingga Pulau Haruku dinamai Nusa Ama yang artinya Pulau Bapa (laki-laki)
yang senantiasa dipakai sebagai nama sanjungan “Pulau Bapa’. Menurut sejarah bahwa, pada
tahun 1513 sewaktu Misi Portogis yang pentama dipim pin oleh “Francisko Serau” menjejak
kakinya dipantai Aboroe sebagai negeri yang pertama untuk membuka tempat kediamanja,
beliau bertamu dengan seorang laki-laki atau Raja Latu...... ia sebagai Raja Pulau Haruku
yang telah turun berdiam dan berpusat di Aboroe; maka pada waktu itu ia ditanya dengan
maksud tempat itu, maka iapun tidak mengerti bahasa Portogis maka ia menjawab; Nusa Ama
yang artinya Bapa atau Iaki-laki, yang dimaksudkan dengan Raja atau Bapa Pulau mi.
Dengan demikian, dapat dibeni kesimpulan oleh beliau Pulau Omonne dan negeri Oma.
Dan pada tahun 1605 Pulau ini kembali diganti dengan nama Pulau Haruku, oleh karena
pada saman V.O.C. Dimana sebuah kapal yang dibawah pimpinan Steven v.d. Hahen dimana
kapalnya berlabuh ditandjung, Hatu Samet dimana mereka mencahari kontract perdangangan
rempah-rempah di Pulau mi. Dimana beliau bertemu dengan salah seorang laki-laki jang
sementara duduk dibawah pohon kaju baru, setelah ia ditanya tentang nama dari tempat
itu serta Pulau ini, ia pun juga tidak mengerti bahasa Belanda, sehingga la menjawap
dengan maksud keadaan situasi dengan bahasa daerah bahwa; AU KUPA WA, A HARU UKUI,
yang artinya saya duduk dibawah unjung pohon kaju baru, yang secara kesimpulannja
Pulau mi dinamai Pulau Haruku yang dipertahankan hingga dewasa ini. Kemudian pada
waktu Steven v.d. Hahen dan V. 0. C. masih berada di Pulau ini maka datanglah seorang
laki-Iaki dari salah sebuah negeri di pulau Seram (Nusa Ina) dengan mendayung sebuah
perahu yang dibuat dari kuming kelapa (kelopak rambu kelap) dan nama dari Pahlawan
tersebut adalah.............. la berasal dari Desa Waitui. Dan beliau telah tiba disalah satu
tempat di Pulau Haruku yang bernama Woi Kuru adalah asal kata danri bahasa daerah,
yang artinya Pergi dan turun.

Sesudah itu Pahlawan tersebut melanjutkan perjalanannya kesalah satu tempat dan
la tidur disitu sehingga tempat tersebut diberikan nama NA,E,IRA, yang artinya tidur banyak.
Dan pada ahkirnya nama dari pahlawan tersebut diganti menjadiTua Saita, oleh karena
beliau mendayung sebuah perahu yang dibuat dari kiming kelapa; oleh karena dalam bahasa
daerah Mendayung adalah artinya Saita, pun demikian juga diganti senantiasa sebagai
sanjungan Saya. Kimudian Pulau ini diberi nama gelaran; Pulau BUANG BESI, sebab pada
tahun 1622 sejak sebuah kapal V.O.C. yang berlayar dari Banda dibawah Pimpinan Adrian
Hulsebos menuju Ambon, telah menemui angin tofan dan gelombang maka tujuan dari
beliau tersebut taktercapai sehingga kapal tersebut berlabuh dipantai atau teluk yang
bernama Nahai serta tali jangkarnya diikat pada sebuah batu didekat tanjong Salele
menjadi terputus sehingga kapal tersebut telah menjadi karam (terdampar) kedarat dan
Kapal tersebut telah menjadi batu dan bukti nya masih berada hingga dewasa ini,
sehingga tempat tersebut diberi nama Batu Kapal (ketjil). Demikianpun pada waktu kerusakan
kapal itu maka salah seorang awa kapal ia mencahari keselamatan kedarat maka nama dari
beliau adalah TUA NAHUMURY. Ia tiba pada salah satu tempat untuk melihat, sehingga nama
tempat itu diberi nama NAUHEI adalah asal kata dari bahasa daerah yang artinya: lihat, dan cari,

lalu di ganti lagi sebagai sanjungan NAHAI hingga dewasa ini. Setelah beliau melihat keadaan
situasi tempat itu tidak memuaskan sehingga ter paksa Ia berpindah lagi kesebelah sebuah
Bukit (gunung) dan berhenti pada sisi sebuah batang Air untuk membuat tempat kediamannya,
oleh karena beliau sampai pada tempat itu dan berhenti maka akhirnya tempat itu diberi nama
dengan bahasa daerah adalah AMALAINA sehingga dipakai sebagai Negeri yang pertama.
Kemudian pada satu saat TUA SAYA sedang mencahari tahu hutan-hutan yang berdekatan
dengan ilmu-ilmu gaipnya (Mawe) maka ilmunya menyatakan bahwa disebelah bukit (gunung)
itu terdapat sebuah keluarga yang ada berdiam disitu, maka itu TUA SAYA segera mencari
jalan untuk bertemu, maka disini berhasillah Beliau dengan ilmu-ilmu gaipnya.............setelah
TUA SAYA bertemu dengan TUA NAHUMURY dan telah bermupakat untuk mencari tempat yang
baik untuk didiaminya. Maka TUA SAYA menghendaki bahwa Negeri tersebut harus bertempat
pada lokasi yang TUA SAYA sudah pernah bertempat disitu yaitu NAE IRA adalah asal kata dari
bahasa daerah yang artinya TIDUR BANYAK sehingga tempat itu dapat dibatalkan oleh
TUA NAHUMURY bahwa tempat (lokasi) ini cukup bagus tetapi Air untuk anak cucu tidak ada,
dan apakah lebih baik ditempat yang beta perusah, maka dengan satu jawaban dari TUA SAYA
dengan bulat hati bahwa kita kembali dan mulai perusah sehingga tempat itu diberi nama
AMAN HORUY adalah istilah dari bahasa daerah yang artinya NEGERI BARU. Kemudian pula
tanjong SALELE diberi nama pada waktu pembukaan AMAN HORUY (negeri Baru) pada tahun
1624, dimana TUA SAYA dan TUA NAHUMURY mengsaloi tanjong itu dengan ilmu-ilmu laki-lakinya,
untuk mencegah segala pendatang yang datang dari luar yang akan masuk NEGERI BARU ini
dengan ilmu gaipnya. Asal kata saloi dalam bahasa daerah; SALELE, yang artinya,...................................
.................... Perlu diketahui sebelum bangsa-bangsa EROPAH
mengenjungi Negeri Baru semua penduduk Negeri tersebut masih tinggal berkeliaran di hutan-
hutan (pedalaman) serta terdiri dari banyak mata rumah (keluarga) dan dari pada tiap-tiap
keturunan mempunyai tempatnya masing-masing yang disebut AMAN yang dalam bahasa
INDONESIA disebut Negeri. Dan cara hidup serta kebudayaan mereka biasanya dengan
bercocok tanam serta berburu binatang hutang, sehingga tempat-tempat kediaman mereka juga
sering-sering berpindah-pindah tempat yang mengakibatkan juga bermacam-macam perkelahian
atau peperangan antara mata rumah dengan mata rumah Negeri dengan Negeri karena tidak
percecocokan faham dan Perkasa. Biasanya barang siapa yang dianggap Perkasa, akan diangkat
sebagai KAPITAN. Akan tetapi hal itupun melalui suatu pertarungan ilmu-ilmu tahyul serta hidup
keberanian, dan oleh keberanian dan ke Perkasaan sehingga kedua Pahlawan sudah dapat
menurunkan semua orang yang berdiam dihutan-hutan (pedalaman) untuk diturunkan ke Negeri
yang Baharu ini, untuk berdiam bersama-sama hingga dewasa ini. Dan pada

tahun 1625 dimana bangsa EROPAH mencari tempat untuk menempatkan kedudukan
Kota maka Kota AMBON dan negeri ABOROE itu dicalonkan sebagai satu Perhatian, sewaktu
selesai perang LEIHITU dan LEITIMUR pada tahun 1632, sehingga kedua Kapitan telah
mengadakan pertarungan, antara Kapitan HUTUMURY dan Kapitan TUA SAYA dengan kedua
AYAM JAGO diadukan dalam satu perkelahian yang hebat di tangjong Hatuukui, maka pada
akhirnya AYAM dari Kapitan TUA SAYA dikalahkan dan leher AYAM itu mengalami cidra (patah)
sehingga tangjong itu, dan pada akhirnya tangjong itu diberi nama HATU MANU hingga dewasa ini.
Dan juga perlu diketahui bahwa KAPITAN/PAHLAWAN kami juga tidak ketinggalan.
Dan mereka benar-benar berperan dalam masa-masa kedatangannya bangsa-bangsa
EROPAH di MALUKU TENGAH, disertai dengan peperangan yang berangsur-angsur sejak
pertengahan abat ke XVI sampai XVII, dalam sejarah perang terakhir antara LEI HITU dan
LEI TIMUR. Dimana berahir masa hidupnya KAPITAN LATU................... di tahun 1624.
Pada umumnya jelas diketahui bahwa, penyebaran Agama di INDONESIA dan kusus pada
kepulauan MALUKU, bertalian dengan Politis Ekenomi yang dari bangsa-bangsa EROPAH karena
perdangangan hasil rempah-rempah, namun di daerah AMBON, LEASE dan sekitarnya, dapat
juga kita kenal bahwa bangsa PORTOGIS dengan Misinya yang mula-mula membawa Agama
RUM-KHATOLIK; bangsa ARAP dengan penyebaran AGAMA ISLAM ke pulau SUMATRA, JAWA,
serta menyusur masuk ke MALUKU; dan kemudian disaman V.O.C. melalui bangsa BELANDA dan
INGGRIS dengan penyebaran AGAMA KRESTEN PROTESTAN; yang berkembang hingga dewasa ini.
Sebab itu, melalui penyebaran Agama yang masuknya BELANDA dan INGGRIS,
bersama YUSTUS HERNIUS pada tahun 1630 sebagai kekunjungan yang pertama kali di negeri
ABOROE maka pada saat itu Beliau telah bertemu dengan kedua PAHLAWAN/KAPITAN
TUA SAYA dan TUA NAHUMURY, demikian Beliau bertanyakan tentang nama dari tempat
yang mereka diami itu, maka Keduanyapun tidak mengerti bahasa belanda, sehingga
Keduanya menjawab dengan bahasa daerah, bahwa Ami kupa wa,a AMAN HORUI, yang artinya,
Kami duduk di Negeri Baru sehingga nama yang disebut (dipanggil) oleh YUSTUS HERNIUS
adalah ABOROE serta senantiasa sebagai sanjungan ABOROE hingga dewasa ini. Sebelum Kapitan LATU...
................, Beliau adalah salah seorang KAPITAN RAJA dari PULAU BUANG BESI
meninggal dunia maka Beliau telah menyerahkan tongkat ESTEFETNYA kepada anaknya
untuk memegang kekuasaannya serta salempang RAJA yang berada hinggakin.
Nama dari sang Latu adalah LATU TUA SINAY, dan pada tahun 1633 dimana YUSTUS HERNIUS
mengundang LATU TUA SINAY untuk datang bertemu dengan Beliau tetapi LATU TUA SINAY
tidak mau turun oleh karena Ia takut ke pada bangsa Belanda sehingga Ia menyuruh akan
Iparnya (konyadu) untuk turun bertemu dengan YUSTUS HERNIUS sehinga Ipar (konyadu) terpaksa
turun dari pedalaman (hutan) dan bertemu dengan YUSTUS HERNIUS dan membicarakan tentang
situasi (keadaan) tempat itu untuk mengangkat seorang PIMPINAN pada daerah tersebut
maka terpaksa Beliau menerima akan kekuasaan itu dan telah menerima TONGKAT serta PAYUNG
RAJA dan nama dari Beliau tersebut adalah USMAN NUSA HUHUI yang artinya USMAN dari
tanah yang jauh.

Selanjutnya pada tahun 1635 datanglah seorang GURU AGAMA yang bernama JOHANIS SILOY
dan akhirnya keperintahan dari USMAN kembali lagi diserahkan kepada anaknya yang
bernama RIRIASA demikian pula pada tahun 1700 datang kembali untuk mengganti guru
Agama yaitu ISAK SILOWANE sampai dengan tahun 1710 lagi diganti dengan FRANCOIS VOLENTYN
hingga tahun 1711 setelah itu LATU (Raja) RIRIASA menyerahkan kembalitongkat Estafetnya
kepada LATU MANIS memegang perintah mulai dari tahun 1711 sampai dengan tahun 1738.
Demikian pada saat itu Guru Agama diganti lagi dengan IBRAHIM LATUPAPUA dan mulai
dari tahun 1814 maka diganti juga pemerintahan dengan LATU PHETRUS Sampai dengan
tahun 1828 dan kembali diganti juga Guru Agama L. UNEPUTY sampai dengan tahun 1833
pula diganti lagi pemerintahan dengan PATI ABRAHAM sampai dengan tahun 1869 dimana
banyak Guru Agama silih berganti dan mengenai pemerintahan dalam Negeri ABOROE
maka selepas PATI ABRAHAM diganti juga dengan salah seorang Kepala SOA yaitu
JOSIAS SAYA sebagai wakil Negeri ABOROE baru diganti lagi dengan IBRAHIM USMANY
masa pemerintahannya sampai dengan tahun 1945 dan diganti dengan J. J. AKIHARY
hingga 1951 diganti dengan F. USMANY diganti lagi dengan J. NAHUMURY lagi pula diganti
dengan J. SINAY selepasnya J. SINAY diganti dengan P. SINAY. Dan mengenai Guru Agama
L. UNEPUTY dari tahun 1828 sampai dengan 1833 adalah masa tugas dari J. J. KAM sampai
dengan 1841 sampai 1843 Adalah P. KEYSER 1843 sampai 1844 adalah ROUDEN dan
W. LUYKE serta 1844-1845 adalah BRUMEIND, 1845-1852 adalah masa W. LUYKE,Dan 1852-1857
J. J. KAM, 1857-1858 J. J. VERHUFF, 1858-1860 J. J. BAAR, 1860-1865 S. TOBI, 1865-1869 A. v EKRIS,
1869-1882 R. BOSFERT,1882-1883 S. J. De VRIES, 1883-1885 P. J. PENINGS, 1885-1887 P. J. SOPACUA,
1887-1891 S. HUSINGH, 1891-1898 J. L. MOENS, 1898-1899 J. SOUKOTA, 1899-1900 J. S. LEVENG,
1900-1901 C. M. PASTORD, 1901-1903 M. BIRKHOFF, 1903-1905 VAN DER MEINSEN, 1905-1910 H.
GROFHUIS, 1910-1913 VAN DER LINDEN, 1913-1918 D. PATTINAMA, 1918-1920 J. SAHETAPY, 1
920-1930 J. SYARANAMUAL, 1930-1932 W. LAWALATA, 1932-1934 P. NANLOHY, 1938-1941
D. LOUPATTY, 1941-1942 S. LATUMARISSA, 1942-1946 adalah H. NIKIULU, 1946-1953
GASPERS, 1953-1957 E. NOYA, 1957-1962 J.J.F. HITIAUBESSY, 1962-1967 H. SALAWANE,
1967-1971 A. TALANE, 1971-1981 E. F. MAILISSA 1981-1986 Njn. J. PELAMONIA,
1986-19....... SF. HAUMAHU.

Dan inilah sebagai keterangan dari mulanya semasa kekunjungan bangsa EROPAH pada yang
pertama yaitu sejak tahun 1630. Jelasnya, menganai PENDETA yang bertugas di Negeri ABOROE
mulai dari JUSTUS HERNIUS sejak tahun 1630 sampai dengan tahun 1989 Semuanya
berjumlah 46 (empat puluh enam).

Mijn dank aan momo Z.F. Usa Teterissa
uit Aboroe voor het schrijven van deze
Sejarah die ik in 1989 van hem heb
gekregen.
rg-home.gif